5 Hal Penting Bagi Pemimpin untuk Membangun Integritas di Tempat Kerja

5 Hal Penting Bagi Pemimpin untuk Membangun Integritas di Tempat Kerja

Pemimpin harus mampu memimpin dengan contoh dan menciptakan lingkungan kerja yang profesional bagi para bawahannya. Pemimpin bertanggung jawab untuk timnya, dan secara aktif mengelola kinerja timnya. Pemimpin selalu memastikan bawahannya menjalankan tugasnya sesuai dengan harapan organisasi, dan mematuhi manajemen risiko yang ada di tempat kerja. Pemimpin menjamin pelaporan internal memfasilitasi deteksi dini dan berkontribusi terhadap perbaikan terus-menerus dari organisasi.

Untuk itu 5 (lima) hal berikut sangat penting bagi pemimpin untuk membangun integritas di tempat kerja:

ETIKA KEPEMIMPINAN

Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang beretika dan professional serta konsisten dengan harapan organisasi?

Memimpin dengan contoh.

Etika di tempat kerja harus dimulai dari atas dengan mengambil tanggung jawab untuk membangun tempat kerja yang profesional. Tidak hanya menyampaikan pesan yang jelas tentang perilaku etis dan integritas, tetapi juga harus menjadi model. Juga menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi secara konsisten.

Menetapkan harapan yang jelas.

Dengan mendefinisikan tugas, harapan, standar profesional, dan tanggung jawab bawahan. Memperkuat penerapan praktis dari dokumen organisasi, seperti kode etik, nilai-nilai organisasi, hak dan kewajiban.

Menerapkan nilai-nilai organisasi.

Membantu bawahan memahami nilai-nilai organisasi dan bertanggungjawab menginformasikan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai organisasi. Mendidik bawahan tentang apa artinya dan apa yang diharapkan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai organisasi.

Membuat keputusan yang dipercaya.

Etika kepemimpinan ditandai dengan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan. Memastikan bahwa semua pengambilan keputusan yang tepat waktu, didukung oleh bukti-bukti, dan dibuat dengan memperhatikan nilai-nilai organisasi.

Berkomunikasi dengan bawahan.

Menyorot dilema etika yang dihadapi oleh bawahan dan respon mereka. Mengadakan diskusi dengan bawahan mengenai isu-isu perilaku etis tertentu. Mengidentifikasi dan menyoroti bawahan untuk kaitan antara individu, tim, dan kinerja organisasi. Dan berbagi informasi mengenai standar etika organisasi.

Menilai bawahan.

Secara teratur mengingatkan bawahan tentang kontribusi positif dan penting yang mereka buat untuk masyarakat, dan bagaimana perilaku mereka membantu membangun dan memelihara kemitraan dengan masyarakat. Memperkuat pentingnya bawahan terus menjadi bagian dari jaringan mereka.

Mengembangkan keterampilan anda.

Memaksimalkan peluang untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dalam mendukung perbaikan terus-menerus. Hal ini penting bagi pemimpin untuk membangun pembelajaran mereka melalui coaching dan mentoring.

MANAJEMEN & PENGAWASAN AKTIF

Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang efektif dan bangga pada bagaimana mengelola tempat kerjanya?

Gunakan alat manajemen yang tersedia.

Memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk mengelola bawahan, memantau kinerja tim, membangun keterpaduan kelompok dan mengatur arah strategis timnya. Beberapa sumber daya ini dapat berupa SOP di tempat kerja, panduan etika, penilaian kinerja, dan pengembangan profesional sehari-hari.

Mengenal bawahannya.

Menaruh minat pada bawahannya dan secara aktif terlibat dalam pengelolaan pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka melakukannya. Mengetahui bawahan adalah tentang menunjukkan rasa hormat dan memberikan dukungan di tempat kerja. Seorang pemimpin mungkin juga ingin mempertimbangkan jika bawahannya memiliki keterampilan atau pengalaman yang bisa menguntungkan timnya.

Memeriksa kinerja.

Berbagai data prestasi kerja dan keluhan dapat membantu mengidentifikasi potensi masalah kinerja dan integritas di tempat kerja. Data-data yang dihasilkan bagian Sumber Daya Manusia dapat digunakan untuk memantau tren di area-area yang ada, dan untuk membantu mengidentifikasi potensi kesalahan atau isu-isu manajemen di area-area tersebut.

Memeriksa pengaduan.

Data pengaduan dapat memberikan indikator yang berguna bagi kinerja dan kekhawatiran integritas. Jumlah dan jenis keluhan terhadap bawahan akan membantu pemimpin mengidentifikasi tren potensial dalam perilaku.

Mengidentifikasi potensi masalah.

Pemimpin memantau potensi masalah bawahannya, dan bertindak atas kekhawatiran yang diidentifikasi sejak awal. Isu yang terkait dengan potensi masalah bawahan tidak hanya berdampak pada kinerja bawahan, tetapi juga dapat berdampak pada integritas kerja.

Membantu perkembangan pembelajaran yang berkelanjutan.

Pemimpin harus menumbuhkan lingkungan belajar terus menerus. Menggunakan proses manajemen kinerja untuk membantu mengidentifikasi peluang dalam mengembangkan bawahan.

Selalu siap.

Pemimpin selalu tersedia untuk bawahannya. Membangun saluran komunikasi terbuka dan teratur dengan bawahan untuk membantu menumbuhkan dan membangun kepercayaan. Menciptakan peluang pertemuan formal dan informal untuk membahas kinerja, masalah perilaku, etika atau lainnya.

ORANG-ORANG YANG TEPAT

Bagaimana seorang pemimpin percaya bawahannya menjalankan tugasnya sesuai dengan harapan organisasi dan bangga dengan layanan yang mereka berikan kepada stakeholders?

Mempromosikan kode etik.

Pastikan kode etik tersedia dan dimengerti oleh bawahannya.

Menerapkan nilai-nilai.

Secara luas mempromosikan nilai-nilai organisasi dan artinya di tempat kerja.

Mendidik bawahan tentang tanggung jawab etika.

Mendidik dan memastikan bahwa bawahan memahami tanggung jawab etis mereka di tempat kerja.

Mendorong pembelajaran yang berkelanjutan.

Pemimpin dan bawahan bertanggung jawab untuk pengembangan pribadi dan profesional. Mempromosikan pesan ini di tempat kerja dan mendorong bawahan untuk mengambil tanggung jawab dalam pengembangan dan pembelajaran mereka.

Praktek pengambilan keputusan etis.

Memperkenalkan pelatihan berbasis skenario dan latihan kelompok untuk mendidik bawahan tentang membuat pilihan etis.

Mengidentifikasi “role model”.

Mengidentifikasi orang dalam organisasinya yang dapat bertindak sebagai role model dan mentor untuk membantu bawahan mengembangkan keterampilan etika kepemimpinan.

Belajar dari kesalahan.

Mengembangkan lingkungan pembelajaran di mana bawahan dapat belajar dan berkembang dari pengalaman, dengan mengidentifikasi dan berdiskusi dengan bawahan bagaimana kesalahan bisa dikelola dengan lebih baik.

Bertindak untuk mencegah.

Bertindak dengan integritas berarti bahwa bawahan harus bertindak dengan kejujuran, dan kekuatan moral, serta keberanian. Memelihara lingkungan dimana bawahan merasa nyaman untuk berbicara dan ikut campur tangan bila diperlukan.

Mengakui bawahan.

Secara teratur baik formal maupun informal memberikan penghargaan dan mengakui perilaku etis di tempat kerja.

PROSES YANG EFEKTIF

Bagaimana seorang pemimpin membuat tempat kerjanya memiliki proses yang baik, percaya bawahannya memahami dan mematuhi kewajiban serta tanggung jawab kerja?

Konsultasikan bawahan.

Konsultasi bersama bawahan untuk meninjau dan memperbarui kebijakan dan proses kerja.

Penilaian risiko perilaku.

Mengidentifikasi potensi risiko perilaku kepada individu, tempat kerja atau organisasi, dan menilai kemungkinan risiko perilaku yang terjadi. Menghitung konsekuensi risiko perilaku yang terjadi, dan menerapkan cara-cara untuk meminimalkan atau mencegah resiko perilaku.

Memonitor kecenderungan.

Memantau munculnya risiko etika dengan melakukan pemindaian lingkungan secara berkala, dapat mencakup pemantauan kecenderungan dan isu-isu serta mengembangkan respon tempat kerja terhadap risiko potensial.

Memperkuat kebijakan.

Memperkuat kebijakan dan proses untuk mengelola isu-isu dan risiko yang dikaitkan dengan perilaku yang tidak benar, penyimpangan dan korupsi. Memastikan bawahan memahami masalah dan risiko yang berkaitan dengan kebijakan dan proses, mereka bertanggung jawab untuk memastikan kesesuaian, dan paham kemana untuk mendapatkan saran atau informasi lebih lanjut.

Monitor kepatuhan.

Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk memantau kepatuhan bawahan terhadap kebijakan. Pertimbangkan pengembangan prosedur untuk membantu bawahan dalam memenuhi tanggung jawab dan kewajiban etika. Menjaga kesehatan etika tempat kerja akan membantu pemimpin untuk lebih baik dalam mengelola risiko tersebut.

Melakukan audit.

Melakukan audit tempat kerja secara teratur untuk memastikan bahwa bawahan mematuhi kewajibannya berdasarkan kebijakan dan prosedur organisasi, dalam kaitannya dengan risiko bidang manajemen yang harus dipatuhi. Gunakan alat audit yang tersedia atau daftar periksa untuk memastikan bahwa tempat kerja selalu konsisten dengan praktik yang baik.

Melibatkan dukungan.

Meminta dukungan dari bagian pengembangan profesional, bagian pendidikan dan pelatihan, bagian standar etika untuk melakukan sesi pelatihan dan pendidikan di bidang kebijakan dan risiko untuk bawahannya.

Mengelola bawahan yang keluar.

Proses keluar dari tempat kerja adalah sama pentingnya dengan proses induksi tempat kerja. Proses keluar yang baik mencerminkan rasa hormat dan mendukung tempat kerja.

Menyertakan etika dan integritas.

Pastikan etika dan integritas adalah termasuk dalam semua pendidikan, pelatihan dan praktek di tempat kerja. Memperkenalkan pelatihan etika dan integritas yang spesifik untuk bawahan yang ditugaskan di area beresiko tinggi terhadap penyimpangan.

Penggunaan skenario.

Menjalankan serangkaian skenario pelatihan atau latihan terkoordinasi untuk pengujian prosedur operasi manajemen risiko. Konsultasikan dengan bagian standar etika dan integritas untuk membantu pengembangan skenario.

PELAPORAN YANG PROFESSIONAL

Bagaimana seorang pemimpin percaya bawahannya akan bertindak atas masalah integritas, dan nyaman dengan bagaimana kekhawatiran integritas diangkat dan dikelola di tempat kerjanya?

Berbagi tanggung jawab.

Mempertahankan dan mempromosikan pesan utama bahwa semua bawahannya memiliki tanggung jawab untuk memastikan standar integritas di tempat kerja.

Mendorong pelaporan yang professional.

Semua bawahan wajib melaporkan perilaku yang tidak benar, penyimpangan dan korupsi. Kewajiban ini harus diatur dalam peraturan dan pedoman perilaku, dan dirancang untuk menjaga integritas dan profesionalisme organisasi.

Mengaktifkan pelaporan.

Mendidik bawahan tentang proses untuk melaporkan masalah integritas. Peraturan yang mengatur tata cara pelaporan pelanggaran yang serius harus dibuat.

Mengetahui tanggung jawabnya.

Pastikan sebagai pemimpin menyadari tanggung jawab terkait pelaporan, dan cukup terlatih serta terampil untuk mendukung pemeliharaan standar profesional.

Menciptakan budaya pelaporan yang aman.

Menjaga budaya pelaporan yang aman di mana bawahan merasa percaya diri untuk melaporkan masalah integritas.

Memantau kesehatan dan keselamatan.

Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk memantau kesehatan dan keselamatan bawahannya, terutama mereka yang telah membuat pengaduan atau pengungkapan internal tentang perilaku pegawai. Indikator yang mungkin menunjukkan bawahan mengalami stres atau tekanan di tempat kerja, perubahan kinerja, dan absensi. Pemimpin harus memastikan bahwa bawahan menyadari dan memiliki akses layanan dukungan yang tepat.

Dukungan bawahan.

Semua bawahan memiliki hak untuk merasa nyaman dan aman di tempat kerja yang profesional dan penuh hormat. Berhati-hati dari segala pengaruh yang mengganggu stabilitas, seperti orang-orang yang menghambat proses pengaduan atau melecehkan orang-orang yang membuat pengaduan internal.

Mencari umpan balik.

Mencari umpan balik dari pengadu tentang proses laporan. Dan secara khusus, meminta umpan balik pada manajemen.

Meminta dukungan.

Meminta dukungan dari bagian pengembangan profesional sesuai peran dan kewenangan untuk memberikan pengembangan kepemimpinan yang etis dan meningkatkan standar profesional di tempat kerja.

Review penanganan pengaduan.

Tinjau proses penanganan pengaduan untuk memastikan mereka konsisten dengan prinsip-prinsip keadilan.